Jayapura, Kamundanfm.com – Konsumsi bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite di wilayah Papua dan Maluku dilaporkan mengalami kenaikan signifikan hingga 19 persen dalam beberapa periode terakhir. Lonjakan ini terjadi di tengah meningkatnya aktivitas masyarakat yang dipicu oleh euforia pertandingan olahraga internasional, termasuk Piala Dunia 2026, serta meningkatnya mobilitas ekonomi dan sosial di malam hari.
Data distribusi energi regional menunjukkan peningkatan paling terasa terjadi di wilayah perkotaan seperti Jayapura, Sorong, Manokwari, Ambon, hingga sejumlah kabupaten dengan aktivitas transportasi darat dan laut yang tinggi.
Lonjakan Dipicu Aktivitas Nobar dan Mobilitas Malam
Sejumlah SPBU di Papua dan Maluku mencatat peningkatan antrean kendaraan, terutama pada malam hari dan akhir pekan. Kondisi ini berkaitan dengan maraknya kegiatan nonton bareng (nobar) pertandingan Piala Dunia di berbagai titik keramaian seperti kafe, rumah makan, dan ruang publik.
Mobilitas masyarakat yang meningkat setelah pertandingan usai juga disebut menjadi faktor utama naiknya konsumsi Pertalite, terutama untuk kendaraan roda dua dan angkutan umum lokal.
“Biasanya malam hari sudah sepi, tapi sekarang ramai sampai lewat tengah malam. Banyak warga pulang dari nobar atau kumpul bersama komunitas,” ujar salah satu petugas SPBU di kawasan Jayapura.
Pergeseran Konsumsi ke BBM Subsidi
Selain faktor euforia olahraga, kenaikan konsumsi juga dipengaruhi oleh pergeseran penggunaan BBM non-subsidi ke Pertalite yang lebih terjangkau. Kondisi ini terjadi di tengah tekanan biaya hidup dan fluktuasi harga energi di beberapa wilayah timur Indonesia.
Pola konsumsi ini terlihat dari meningkatnya pembelian Pertalite oleh kendaraan pribadi, termasuk sepeda motor dan mobil kecil, yang sebelumnya menggunakan Pertamax atau BBM non-subsidi lainnya.
Distribusi Papua–Maluku Masih Hadapi Tantangan Geografis
Di sisi lain, wilayah Papua dan Maluku masih menghadapi tantangan distribusi energi akibat kondisi geografis kepulauan yang luas dan terbatasnya infrastruktur transportasi darat.
Beberapa daerah harus mengandalkan distribusi melalui jalur laut dan udara, yang membuat suplai BBM sangat bergantung pada cuaca serta jadwal kapal logistik. Kondisi ini kerap menyebabkan fluktuasi stok di tingkat SPBU, terutama di wilayah pedalaman dan kepulauan kecil.
Meski demikian, suplai ke wilayah utama dilaporkan masih dalam kondisi aman, dengan penguatan distribusi melalui terminal BBM dan agen penyalur di berbagai kabupaten/kota.
Pertamina Pastikan Stok Aman dan Distribusi Terkendali
PT Pertamina Patra Niaga wilayah Papua–Maluku memastikan bahwa stok BBM bersubsidi, termasuk Pertalite, masih mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat meskipun terjadi peningkatan permintaan.
Pihaknya juga terus melakukan penyesuaian distribusi dengan memperkuat suplai ke titik-titik yang mengalami lonjakan konsumsi, terutama di kota-kota besar dan jalur transportasi utama.
“Distribusi tetap kami jaga agar tidak terjadi kelangkaan. Pola penyaluran juga kami evaluasi harian, terutama di wilayah dengan kenaikan konsumsi tinggi,” demikian keterangan dari pihak terkait.
Pertamina juga mengimbau masyarakat agar menggunakan BBM secara bijak dan tidak melakukan pembelian berlebihan yang dapat memicu antrean panjang di SPBU.
Dampak Ekonomi Lokal Ikut Terasa
Di sisi lain, meningkatnya aktivitas masyarakat juga memberi dampak pada sektor ekonomi lokal. Pelaku usaha kecil seperti warung makan, kafe, dan penyedia jasa transportasi mengalami peningkatan transaksi selama periode pertandingan berlangsung.
Namun, pengamat energi menilai lonjakan konsumsi BBM perlu tetap diantisipasi agar tidak menimbulkan tekanan pada distribusi, terutama jika aktivitas masyarakat tinggi berlangsung dalam waktu lama.
