KamundanFM.com – Perserikatan Bangsa-Bangsa mengingatkan negara-negara di seluruh dunia untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan menghadapi dampak cuaca ekstrem yang dipicu oleh fenomena El Niño. Organisasi internasional tersebut menilai El Nino berpotensi memicu berbagai gangguan serius, mulai dari gelombang panas, kekeringan berkepanjangan, kebakaran hutan, hingga ancaman terhadap ketahanan pangan dan ketersediaan air bersih.
Peringatan itu disampaikan seiring meningkatnya kekhawatiran para ilmuwan terhadap dampak perubahan iklim yang dapat memperparah efek El Nino di berbagai belahan dunia. Sejumlah wilayah diperkirakan akan mengalami suhu yang lebih tinggi dari biasanya, sementara daerah lain berpotensi menghadapi curah hujan ekstrem yang dapat memicu banjir dan tanah longsor.
PBB menegaskan bahwa dampak El Nino tidak hanya dirasakan pada sektor lingkungan, tetapi juga berpengaruh terhadap ekonomi, kesehatan masyarakat, serta stabilitas sosial. Produksi pertanian di sejumlah negara diperkirakan dapat terganggu akibat kekeringan, yang pada akhirnya berpotensi mendorong kenaikan harga pangan global.
Para ahli iklim mengimbau pemerintah di berbagai negara untuk memperkuat sistem peringatan dini, meningkatkan kesiapan menghadapi bencana, serta memastikan ketersediaan cadangan pangan dan sumber air guna mengurangi risiko yang mungkin terjadi.
Di kawasan Asia-Pasifik, termasuk Indonesia, fenomena El Nino sering dikaitkan dengan musim kemarau yang lebih panjang dan kondisi cuaca yang lebih kering dibandingkan tahun-tahun normal. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan serta mengganggu aktivitas pertanian.
PBB menekankan pentingnya kerja sama internasional dalam menghadapi tantangan iklim yang semakin kompleks. Langkah mitigasi dan adaptasi dinilai menjadi kunci untuk mengurangi dampak cuaca ekstrem yang diperkirakan akan meningkat dalam beberapa tahun mendatang.
“Kesiapsiagaan sejak dini menjadi langkah penting untuk melindungi masyarakat dari dampak cuaca ekstrem yang berpotensi semakin sering terjadi akibat perubahan iklim global,” demikian pesan yang disampaikan dalam peringatan tersebut.

Citra satelit menunjukkan perbedaan antara suhu permukaan laut rata-rata di khatulistiwa di Pasifik tropis (digambarkan dengan berbagai gradasi warna merah dan oranye) selama minggu pertama Juni 2026 dan garis dasar yang digunakan oleh Layanan Pemantauan Terumbu Karang NOAA. (Sumber gambar: Satelit NOAA).
El Niño Resmi Muncul, Berpotensi Jadi yang Terkuat dalam Sejarah
