Biak, KamundanFM.com – Wakil Ketua Komisi XII DPR RI, Sugeng Suparwoto, menilai kondisi ekonomi Indonesia saat ini sedang menghadapi tekanan yang cukup berat. Menurutnya, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax dan Pertamax Green menjadi salah satu indikator bertambahnya beban yang harus ditanggung masyarakat.
Mulai 10 Juni 2026, harga Pertamax naik menjadi Rp16.250 per liter, sementara Pertamax Green mencapai Rp17.000 per liter. Kenaikan tersebut memicu kekhawatiran terhadap dampaknya terhadap daya beli masyarakat, khususnya kelompok kelas menengah.
Dalam acara Sapa Indonesia Pagi di Kompas TV, Kamis (11/6/2026), Sugeng meminta pemerintah untuk menyampaikan kondisi ekonomi secara terbuka kepada masyarakat serta memperkuat langkah efisiensi anggaran.
“Harus diakui beban fiskal kita saat ini sangat berat. Karena itu efisiensi belanja negara perlu menjadi prioritas,” ujarnya.
Sugeng juga menyoroti kondisi keuangan PT Pertamina yang disebut menghadapi tekanan besar akibat beban operasional dan fluktuasi harga energi global. Menurutnya, apabila harga BBM nonsubsidi tidak disesuaikan, perusahaan pelat merah tersebut berpotensi menanggung beban hingga sekitar Rp7 triliun per bulan.
Selain itu, ia mengingatkan bahwa kenaikan harga BBM dapat memicu peningkatan inflasi. Berdasarkan perhitungannya, kenaikan harga BBM sekitar 30 persen berpotensi mendorong inflasi hingga mendekati 1 persen, terutama dari sektor energi dan transportasi.
Sugeng juga mengusulkan langkah penghematan yang lebih luas di kalangan penyelenggara negara sebagai bentuk empati kepada masyarakat yang sedang menghadapi tekanan ekonomi.
“Kita harus menunjukkan empati kepada rakyat. Pengurangan berbagai belanja yang tidak mendesak perlu dilakukan,” katanya.
Kadin: Kelas Menengah Semakin Tertekan
Sementara itu, Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia, Erwin Aksa, menilai kenaikan harga BBM nonsubsidi akan memberikan tekanan tambahan terhadap biaya hidup masyarakat kelas menengah.
Menurut Erwin, kelompok tersebut saat ini sudah menghadapi berbagai tantangan, mulai dari kenaikan harga pangan, biaya pendidikan, cicilan, hingga melemahnya daya beli. Dengan naiknya harga Pertamax, ruang konsumsi masyarakat diperkirakan akan semakin terbatas.
“Ketika biaya transportasi pribadi meningkat, masyarakat cenderung mengurangi pengeluaran non-prioritas seperti makan di luar, rekreasi, belanja ritel, dan pembelian barang tahan lama,” ujarnya.
Ia menambahkan, sektor perdagangan, ritel, UMKM, restoran, dan jasa berpotensi merasakan dampak perlambatan konsumsi masyarakat akibat kondisi tersebut.
Meski demikian, Erwin menilai dampak langsung terhadap harga pangan relatif terbatas karena sebagian besar distribusi logistik utama masih menggunakan solar atau BBM bersubsidi. Namun, ia mengingatkan adanya risiko kenaikan biaya operasional pada pelaku usaha kecil, layanan kurir, serta distribusi jarak pendek yang dapat memicu kenaikan harga secara tidak langsung.
Kadin berharap pemerintah dapat menjaga stabilitas harga dan pasokan BBM subsidi agar dampak kenaikan BBM nonsubsidi tidak meluas ke berbagai sektor ekonomi.
Redaksi KamundanFM.com
Sumber: Tribunnews
