KAMUNDANFM.COM, JAYAPURA – Ketua Departemen Pemuda GIDI, Ev. Telos Wunungga, S.Th mengatakan, ada tiga poin utama yang harus menjadi pegangan hudup pemuda GIDI.
Hal itu Telos katakan saat seminar sehari yang dilakukan Departemen Pemuda Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) dengan tema “Mengenal Doktrin GIDI Secara Benar”.
Seminar tersebut berlangsung di Gereja GIDI Eden, Entrop Kota Jayapura, Papua, Rabu (25/3/2026).
“Tiga poin utama itu adalah Firman Tuhan, doktrin gereja, dan keputusan-keputusan gereja yang telah ditetapkan dalam forum resmi,” ungkap Telos dalam siaran persnya, Kamis (26/3/2026).
Menurut Wunungga, tanpa ketiga poin tersebut, pemuda akan mudah kehilangan arah dalam kehidupan rohani maupun dalam pelayanan.
“Pertama, pemuda harus kembali kepada Firman Tuhan sebagai dasar hidup. Firman Tuhan menjadi penuntun langkah kita. Kedua, doktrin GIDI adalah pagar yang menjaga agar kita tidak keluar dari kebenaran. Ketiga, keputusan-keputusan gereja merupakan pedoman yang harus dipahami dan dijalankan oleh seluruh jemaat, termasuk pemuda,” tuturnya.
Dikatakannya, saat ini pemuda GIDI tidak hanya dihadapkan pada tantangan kehidupan sosial.
Tetapi juga sambung Telos, pada derasnya arus informasi yang membawa berbagai ajaran yang belum tentu sesuai dengan kebenaran Alkitab.
“Seminar ini dilakukan karena kami melihat ada banyak tantangan yang dihadapi pemuda saat ini, terutama dari perkembangan teknologi dan arus informasi yang begitu cepat. Karena itu, pemuda harus dibekali dengan dasar iman yang benar,” ungkapnya.
Dalam kesempatan itu juga, Telos mengukitip Kitab Yosua 1:8-9 yang mengingatkan pentingnya merenungkan Firman Tuhan siang dan malam agar hidup berjalan sesuai kehendak Tuhan.
“Firman Tuhan harus menjadi dasar hidup kita. Tanpa itu, kita tidak bisa berjalan dengan benar. Pemuda GIDI harus kembali kepada Firman Tuhan, karena dari situlah arah hidup kita ditentukan,” tegasnya.
Telos juga mengatakan, bahwa seminar ini dilatarbelakangi oleh fenomena banyaknya pemuda yang mulai terpengaruh oleh berbagai paham yang menyimpang dari ajaran Injil.
Beberapa di antaranya adalah paham liberalisme yang mulai meragukan otoritas Alkitab, sinkretisme yang mencampurkan iman Kristen dengan praktik budaya yang tidak sesuai, hingga teologi kemakmuran yang mengaburkan makna penderitaan dan pengorbanan Kristus.
“Kalau pemuda tidak dibekali dengan doktrin yang benar, mereka akan mudah terpengaruh. Karena itu, kami ingin memastikan bahwa pemuda GIDI memiliki dasar yang kuat dan tidak mudah goyah,” ucapnya.
Lebih lanjut Telos mengungkapkan, seminar ini juga dipandang sebagai langkah strategis dalam mempersiapkan pemuda sebagai calon pemimpin gereja di masa depan.
Dengan pemahaman doktrin yang baik kata Telos, pemuda diharapkan menjadi pelayan jemaat yang berkualitas serta mampu mempertanggungjawabkan imannya di tengah masyarakat.
“Pemuda hari ini adalah pemimpin gereja di masa depan. Kalau mereka tidak memiliki dasar yang kuat, maka gereja ke depan bisa kehilangan arah. Karena itu, pembinaan seperti ini sangat penting,” imbuhnya.
Ia menambahkan, pentingnya kemampuan apologetika bagi pemuda, yakni kemampuan untuk mempertahankan iman secara rasional dan Alkitabiah di tengah lingkungan sekolah, kampus, maupun dunia kerja.
Sementara itu, Pdt. Usman Kobak, S.Th., M.A., menegaskan, bahwa pembinaan generasi muda merupakan tanggung jawab besar gereja yang tidak boleh diabaikan.
Pemuda merupakan kelompok yang sangat rentan terhadap pengaruh negatif, jika tidak diarahkan dengan baik.
“Mereka bisa terpengaruh oleh hal-hal yang tidak berguna, bahkan bisa menjauh dari nilai-nilai iman. Karena itu, gereja harus hadir memberikan pembinaan yang benar,” katanya.
Menurutnya, kegiatan seminar seperti ini sangat relevan dengan realita saat ini. Pemuda hidup di tengah perkembangan teknologi dan perubahan sosial yang sangat cepat.
“Pemuda sekarang hidup di era digital, di mana informasi begitu mudah diakses. Tapi tidak semua informasi itu benar. Karena itu, mereka harus punya dasar yang kuat supaya bisa menyaring mana yang benar dan mana yang tidak,” ujarnya.
Ia berharap, pemuda GIDI tidak hanya menjadi pengikut, tetapi benar-benar memahami dan menghidupi ajaran iman Kristen secara utuh.
“Harapan kami, pemuda GIDI tidak hanya ikut-ikutan beragama, tetapi memiliki iman yang berakar, bertumbuh, dan berbuah dalam kehidupan sehari-hari,” pungkasnya.
Sebagai informasi, selain memperkuat pemahaman doktrin, seminar ini juga membahas relevansi iman Kristen dalam menghadapi berbagai isu kontemporer, seperti etika dalam penggunaan teknologi, peran pemuda dalam kehidupan sosial dan politik, serta tanggung jawab gereja terhadap persoalan kemanusiaan di Tanah Papua.
Di akhir kegiatan, pihak panitia berharap seminar ini dapat memberikan dampak positif bagi pertumbuhan iman pemuda GIDI, sekaligus menjadi awal dari pembinaan berkelanjutan di berbagai wilayah pelayanan.
Seminar ini menjadi bagian dari upaya serius gereja dalam membangun fondasi iman generasi muda di tengah perkembangan zaman yang semakin kompleks.
(RED//ALL)
