Tokoh pemuda Tanah Papua Aloysius Paulus Siep
KAMUNDANFM.COM, MANOKWARI – Tokoh pemuda Tanah Papua, Aloysius Paulus Siep menyarankan Pemerintah Republik Indonesia membuka diri untuk membicarakan akar persoalan Tanah Papua.
Saran tersebut Aloysius sampaikan dalam momentum peringatan Hari Hak Asasi Manusia (HAM), Rabu 10 Desember 2025.
“Pemerintah harus buka diri membicarakan persoalan Tanah Papua,” kata pria yang akrab disapa Bung APS ini saat diwawancarai di Manokwari Papua Barat, Rabu (10/12/2025).
Menurutnya, momentum Hari HAM ini penting bagi negara untuk merenungkan kembali dengan baik dalam mengurus dan menyelesaikan persoalan pelanggaran HAM di tanah air.
“Sekali lagi, khusus untuk Tanah Papua pemerintah harus buka diri agar persoalan pelanggaran HAM di Tanah Papua ini dapat diselesaikan dengan cara yang bermartabat,” ujar mantan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Papua (UNIPA) itu.
Ia menambahkan, apabila negara tidak membuka penyelesaian pelanggaran HAM di Tanah Papua tak akan selesai.
“Mau kasih Otonomi Khusus (Otsus), lembaga percepatan dan pembangunan tetap akan sama saja,” pungkasnya.
Sementara itu, dilansir dari kontras.org, berbagai pelanggaran terhadap hak fundamental warga negara juga masih terus berulang sepanjang 2025.
Berdasarkan data pemantauan yang dilakukan kontraS sejak Desember 2024 hingga November 2025, terdapat 42 peristiwa extra judcial killing yang menyebabkan 44 korban meninggal dunia.
Tak hanya itu, kontraS juga mencatat 71 peristiwa penyiksaan yang terjadi sepanjang periode pemantauan.
Memukul dengan tangan kosong masih menjadi metode penyiksaan yang mendominasi pada tahun ini.
Kendati demikian, kontraS juga membeberkan dalam satu peristiwa metode penyiksaan korban dapat disiksa lebih dari satu metode.
Dalam siaran persnya juga, kontraS juga menyinggung soal peristiwa pelanggaran berat HAM Paniai yang nasibnya tak jelas.
Keluarga korban hingga kini dibiarkan menunggu tanpa kepastian yang jelas.
Padahal nyaris tiga tahun setelah memori kasasi diserahkan ke Mahkamah Agung, peristiwa Paniai tak kunjung dilanjutkan.
(RED//ALL)
