KAMUNDANFM.COM, MANOKWARI – Sekretaris Daerah (Sekda) Papua Barat Ali Baham Temongmere membagikan kisah perjuangannya kala kuliah di Kota Jayapura Papua.
Kisah itu ia bagikan ketika menghadiri Kongres I Perhimpunan Alumni Jayapura (Perajaya) Papua Barat di Oriestombay Hotel Manokwari, Sabtu (30/8/2025).
Pria yang akrab disapa Sekda ABT ini merupakan alumni Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) Yoka, Kota Jayapura Papua.
Sebagai sekda maupun senior Perajaya Papua Barat, Ali Baham Temongmere diminta untuk memberika materi dalam kongres tersebut.
Sekda ABT menceritakan, sebelum sampai ke Kota Jayapura ia terlebih dahulu harus menumpangi pesawat jenis twin otter ke Sorong Papua Barat Daya.
Sesampai di Sorong, perjalanan kembali ia lanjutkan dengan menumpangi kapal perintis menuju Kota Jayapura, Papua.
Butuh tujuh hari untuk sampai ke Kota Jayapura.
Sebab, kapal perintis yang ia tumpangi singgah terlebih dahulu singgah di beberapa daerah di antaranya, Manokwari, Nabire, Biak, Serui, Sarmi dan terakhir Jayapura.
“Jadi saya masuk APDN itu tahun 1985. Usia saya waktu itu 18 tahun dan baru lulus Sekolah Menengah Atas (SMA),” jelas Sekda ABT.
Ia mengungkapkan, banyak tantangan yang ia hadapi ketika kuliah di Kota Jayapura.
Satu di antaranya ialah titip Kartu Tanda Penduduk (KTP) ketika ingin makan.
“Kami makan titip KTP karena tidak ada uang. Orang tua jauh di kampung,” kata Ali Baham Temongmere.
Selain itu, Sekda ABT menuturkan ketika masuk APDN dirinya bersama teman seangkatannya Derek Ampnir direndam dalam kubangan yang merupakan tempat berendamnya babi.
Kubangan tersebut tepat berada di bawah pohon sagu.
“Kami juga harus push up dan lari 2.700 meter dari Markas Denzipur X Waena ke Kampus APDN Yoka,” tuturnya.
Sekda ABT menegaskan, semua yang ia lakukan ketika kuliah di Jayapura untuk suatu perubahan.
Olehnya itu, ia mengimbau anggota Perajaya Papua Barat untuk menjadi agen perubahan.
“Darimana kita memulai? Dari diri kita sendiri,” ucap Sekda ABT.
Lanjut Sekda ABT, anggota Perajaya Papua Barat juga harus menjaga kebersamaan dalam membangun daerah.
Sebab sambung Sekda ABT, kehidupan masyarakat tak bisa dilepaskan dari sistem pemerintahan, sosial, budaya dan lainnya.
(RED//ALL)
