Manokwari ,Kamundanfm.com – Upaya modernisasi sektor pertanian di Papua Barat memasuki babak baru. Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama Balai Wilayah Sungai (BWS) Papua Barat resmi memulai pengembangan sistem digital monitoring Daerah Irigasi (DI) Oransbari di Kabupaten Manokwari Selatan. Program ini diharapkan menjadi terobosan dalam meningkatkan efisiensi pengelolaan irigasi sekaligus mendukung ketahanan pangan di wilayah Papua Barat.
Program tersebut ditandai dengan kick-off meeting dan penandatanganan perjanjian kerja sama di Kantor BWS Papua Barat pada 18 Juli 2026. Kegiatan ini menjadi awal implementasi Program Digitalisasi Monitoring Daerah Irigasi Oransbari Tahun Anggaran 2026, yang mengintegrasikan teknologi digital ke dalam sistem pengelolaan jaringan irigasi.
Jawaban atas Tantangan Pengelolaan Air
Di tengah meningkatnya kebutuhan air untuk sektor pertanian, pengelolaan irigasi secara konvensional dinilai semakin sulit menjawab tantangan di lapangan. Keterbatasan pemantauan kondisi saluran, distribusi air yang belum merata, hingga lambatnya penanganan kerusakan menjadi persoalan yang kerap dihadapi.
Melalui sistem digital yang dikembangkan UGM, proses pemantauan debit air, distribusi irigasi, hingga kondisi jaringan saluran akan dilakukan secara lebih cepat, akurat, dan berbasis data.
Dengan teknologi tersebut, pengelola irigasi tidak lagi hanya mengandalkan pemeriksaan manual di lapangan, tetapi dapat memperoleh informasi secara real time sehingga keputusan operasional dapat diambil lebih cepat.
Sinergi Perguruan Tinggi dan Pemerintah
Dekan Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Prof. Dr. Ir. Eni Harmayani, M.Sc., mengatakan kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah menjadi kunci dalam menghadirkan inovasi yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Menurutnya, modernisasi irigasi bukan sekadar penerapan teknologi, tetapi bagian dari strategi memperkuat produktivitas pertanian nasional.
“Kolaborasi ini diharapkan menjadi langkah awal dalam mendorong modernisasi pengelolaan irigasi berbasis teknologi sekaligus memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan pemerintah dalam mendukung ketahanan pangan,” ujar Eni.
Ia menilai pemanfaatan teknologi digital akan meningkatkan efisiensi penggunaan air sekaligus membantu petani memperoleh kepastian distribusi air yang lebih baik.
Libatkan Pemerintah Daerah
Pelaksanaan program tidak hanya melibatkan UGM dan BWS Papua Barat. Pemerintah Provinsi Papua Barat juga turut mendukung melalui koordinasi bersama Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) serta Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan.
Kolaborasi lintas instansi tersebut bertujuan menyelaraskan implementasi program dengan kebijakan pengelolaan sumber daya air di daerah.
Pemerintah daerah menyatakan siap mendukung penyediaan data, informasi, serta berbagai fasilitas yang diperlukan agar proses digitalisasi dapat berjalan optimal.
Survei Lapangan Jadi Tahap Awal
Sebelum sistem diterapkan, tim ahli dari Pusat Kajian Modernisasi Irigasi dan Pertanian (PKMIP) UGM melakukan survei menyeluruh di Daerah Irigasi Oransbari.
Kegiatan tersebut meliputi pemetaan jaringan irigasi mulai dari bendung hingga saluran tersier, identifikasi kondisi eksisting jaringan, serta penentuan titik pemasangan perangkat digital.
Tahapan ini dilakukan untuk memastikan teknologi yang diterapkan sesuai dengan karakteristik wilayah dan kebutuhan pengelolaan irigasi di lapangan.
Ukur Kesiapan Modernisasi
Selain melakukan survei teknis, tim yang dikoordinasikan Prof. Dr. Ir. Sigit Supadmo Arif, M.Eng. bersama Dr.Eng. Ansita Gupitakingkin Pradipta, S.T., M.Eng. juga mengukur Indeks Kesiapan Modernisasi Irigasi (IKMI).
Penilaian dilakukan melalui wawancara dengan pengelola jaringan irigasi, petugas operasi dan pemeliharaan, serta para petani sebagai pengguna utama layanan irigasi.
Hasil pengukuran tersebut akan menjadi dasar dalam menentukan strategi penerapan teknologi agar sesuai dengan kesiapan kelembagaan maupun masyarakat setempat.
“Digitalisasi monitoring ini nantinya tidak hanya memasang perangkat, tetapi memastikan sistem irigasi, kelembagaan, dan masyarakat siap mengadopsi teknologi agar pengelolaan air menjadi lebih efektif dan berkelanjutan,” jelas Sigit.
Data Real Time untuk Pengambilan Keputusan
Sistem digital yang dikembangkan memungkinkan seluruh kondisi jaringan irigasi dipantau secara real time.
Informasi mengenai debit air, distribusi aliran, hingga kondisi saluran dapat diakses lebih cepat sehingga potensi gangguan, kebocoran, maupun kerusakan dapat segera diketahui dan ditangani.
Pemanfaatan data digital juga diharapkan mampu meningkatkan transparansi pengelolaan irigasi serta membantu pengambilan keputusan yang lebih tepat berdasarkan kondisi aktual di lapangan.
Jadi Model Modernisasi Irigasi di Indonesia Timur
Program Digitalisasi Monitoring Daerah Irigasi Oransbari tidak hanya berfokus pada pemasangan teknologi, tetapi juga mencakup penguatan kelembagaan, penyempurnaan tata kelola, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia yang mengelola sistem irigasi.
UGM berharap proyek ini dapat menjadi model modernisasi irigasi berbasis teknologi pertama di Papua Barat sekaligus menjadi rujukan bagi pengembangan sistem serupa di berbagai daerah irigasi lain di Indonesia bagian timur.
Keberhasilan program ini diyakini akan memberikan dampak besar terhadap peningkatan produktivitas pertanian, efisiensi penggunaan air, dan penguatan ketahanan pangan di Papua Barat.
Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat, digitalisasi irigasi di Oransbari diharapkan menjadi contoh bagaimana inovasi berbasis ilmu pengetahuan mampu menjawab tantangan pembangunan pertanian secara berkelanjutan serta mendukung kesejahteraan petani di Tanah Papua.
