"Hidroponik ini menjadi solusi bagi pangan keluarga, mengingat memiliki keunggulan dibandingkan metode tanam konvensional, serta bagaimana perawatan tanaman agar tumbuh subur,"ujarnya.

KAMUNDANFM.COM, MANOKWARI – Tim 11 Tim Ekspedisi Patriot Universitas Airlangga kembali menggalakkan semangat menanam hidroponik. Kali ini dilaksanakan di Kampung Bowi Subur, Jumat (4/9).

Ketua Tim 11 TEP Unair, Dr. Corie Indria Prasasti,S.KM,.M.Kes menjelaskan penyuluhan dan pelatihan yang digelar pihaknya dalam rangka memperkenalkan tanaman hidroponik kepada masyarakat.

“Hidroponik merupakan cara bercocok tanam yang tidak menggunakan media tanah serta dapat memanfaatkan lahan sempit atau kurang produktif, seperti lahan pekarangan rumah, kami lihat di Bowi Subur ini sangat cocok,” ungkapnya disela-sela kegiatan penyuluhan dan pelatihan Hidroponik di Bowi Subur.

Suasana penyuluhan dan pelatihan hidroponik di Kampung Bowi Subur, Distrik Masni, Manokwari Papua Barat, Jumat (4/9). (FOTO//IST)

Dikatakan, keunggulan sistem hidroponik adalah tidak membutuhkan lahan luas seperti pertanian konvensional.”Hidroponik berimplikasi besar pada sektor pertanian perkotaan, ekonomi, dan lingkungan,”katanya.

Lanjut Corie, metode ini secara sederhana dapat menghemat penggunaan air dan meningkatkan efisiensi lahan dan memungkinkan produksi tanaman lebih cepat dan bersih.

“Sebagai salah satu kampung yang menjadi lokus kegiatan, antusias warga sangat terlihat, serta pro aktif selama kegiatan berlangsung. Kita harapkan warga bisa secara mandiri mengembangkan tanaman hidroponik skala rumah tangga,”lanjutnya.

Jika dikembangkan secara mandiri berjalan baik, ujar Corie, bisa dikembangkan untuk komersial, dipasarkan untuk meningkatkan ekonomi keluarga.

“Hidroponik ini menjadi solusi bagi pangan keluarga, mengingat memiliki keunggulan dibandingkan metode tanam konvensional, serta bagaimana perawatan tanaman agar tumbuh subur,”ujarnya.

Dikatakan, pihaknya bersyukur karena peserta pelatihan beragam mulai dari perwakilan PKK, posyandu, dasa wisma hingga generasi muda.

“Hidroponik ini juga bisa menjadi pembelajaran bagi generasi muda, bagaimana anak-anak usia sekolah dapat belajar secara langsung, serta mencoba menanam bibit dengan teknik hidroponik sederhana,”katanya.

Menurutnya, hidroponik merupakan metode pertanian inovatif yang dapat memberikan solusi bagi desa sehat dan berketahanan iklim.

“Dengan menggunakan teknologi ini, para petani di desa dapat menanam sayuran dan buah-buahan tanpa perlu lahan yang luas, serta meminimalkan penggunaan air dan pestisida,”imbuh Corie.

Teknologi hidroponik ini, beber Corie tidak hanya berdampak positif terhadap kesehatan masyarakat dengan menyediakan pangan segar dan bergizi, tetapi juga berkontribusi pada ketahanan iklim dengan mengurangi jejak karbon dan mempromosikan praktik pertanian yang berkelanjutan.

“Melalui pemberdayaan hidroponik, dan kolaborasi lintas sektor dengan pemangku kepentingan, diharapkan desa-desa dapat menjadi lebih mandiri, sehat, dan siap menghadapi tantangan perubahan iklim di masa depan,”bebernya.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Kampung Bowi Subur, Purwadi mengapresiasi Tim 11 TEP Unair 2026, mengingat penyuluhan serta praktik penanaman hidroponik menambah pengetahuan, hingga pengalaman untuk pembuatan hidroponik.

“Jadi dengan kondisi kita di daerah seperti ini, metode sederhana hidroponik yang ditawarkan oleh Tim 11 TEP Unair, diharapkan secara berkelanjutan, warga dapat ikuti jejak untuk membuat tanaman hidroponik,”ujarnya.

Ditambahkan, selain metode hidroponik pihaknya berkeinginan untuk mengintegrasikan dengan budidaya ikan lele.

“Selain cocok diterapkan di pekarangan rumah, kita bisa panen ganda, hasil sayuran dan ikan lele sekaligus. Tanaman tumbuh subur dari nutrisi alami limbah ikan,”pungkasnya.

Dalam penyuluhan dan pelatihan hidroponik, menghadirkan narasumber, Malahayati,S.Tr.P, penyuluh pertanian dari BPP Prafi.

(RED)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *