Direktur Institut USBA Charles Imbir

Papua menyediakan jasa iklim global (global climate services), yaitu manfaat ekologis yang menjaga kestabilan sistem iklim bumi dan dinikmati oleh seluruh umat manusia.

KAMUNDANFM.COM, SORONG – Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa pada Juni 2026 menjadi peringatan paling nyata tentang semakin parahnya krisis iklim global.

Suhu di sejumlah negara seperti Prancis, Spanyol, Italia dan Jerman melampaui 40°C, memicu kebakaran hutan, gangguan kesehatan, penurunan produktivitas ekonomi serta tekanan besar terhadap infrastruktur publik.

Laporan awal menunjukkan bahwa lebih dari 1.300 orang telah meninggal dunia akibat dampak langsung maupun tidak langsung dari gelombang panas tersebut, terutama di kalangan lansia, anak-anak, dan kelompok rentan. Jumlah korban diperkirakan masih dapat bertambah seiring proses verifikasi di berbagai negara.

Tragedi ini menunjukkan bahwa perubahan iklim bukan lagi ancaman di masa depan, melainkan krisis yang sedang berlangsung dan telah menimbulkan korban jiwa dalam skala besar, bahkan di negara-negara maju yang memiliki kapasitas teknologi dan sistem kesehatan yang kuat.

Bagi Eropa, peristiwa ini semakin memperkuat agenda transisi hijau (green transition), yaitu transformasi menuju ekonomi rendah karbon melalui pengurangan penggunaan bahan bakar fosil, percepatan energi terbarukan, restorasi ekosistem, dan investasi besar dalam adaptasi perubahan iklim.

Namun, gelombang panas di Eropa juga memberikan pelajaran penting bahwa transisi energi di negara-negara industri saja tidak cukup.

Menjaga stabilitas iklim bumi memerlukan perlindungan terhadap kawasan-kawasan yang masih berfungsi sebagai penyangga sistem iklim global.

Dalam konteks inilah perhatian dunia semakin tertuju pada tiga benteng terakhir iklim dunia, yaitu Amazon di Amerika Selatan, Lembah Kongo di Afrika, dan Papua di kawasan Pasifik.

“Papua merupakan salah satu bentang hutan tropis terbesar dan paling utuh yang tersisa di dunia,” kata Direktur USBA Institut Charles Imbir dalam siaran persnya, Rabu (1/7/2026).

Hutan-hutan Papua kata Charles, menyimpan cadangan karbon dalam jumlah sangat besar, mengatur siklus air dan curah hujan, menjaga keseimbangan suhu, serta menopang keanekaragaman hayati yang menjadi fondasi ketahanan ekosistem dunia.

Namun peran Papua bagi dunia jauh lebih besar daripada sekadar penyimpan karbon.

Papua menyediakan jasa iklim global (global climate services), yaitu manfaat ekologis yang menjaga kestabilan sistem iklim bumi dan dinikmati oleh seluruh umat manusia.

“Dengan menjaga hutan tetap utuh, Papua membantu memperlambat pemanasan global, mengurangi risiko cuaca ekstrem, dan mempertahankan fungsi-fungsi ekologis yang menopang kehidupan di planet ini,” tuturnya.

Paradigma ini mengubah cara pandang terhadap Papua. Papua bukan sekadar cadangan sumber daya alam atau penyerap karbon yang dapat diperjualbelikan melalui pasar karbon.

Papua adalah infrastruktur ekologis global yang menyediakan layanan penting bagi keberlangsungan kehidupan di bumi.

Dalam konteks ini, pendekatan yang semakin relevan adalah pendekatan bentang alam dan bentang laut (landscape and seascape approach).

“Pendekatan ini melihat hutan, sungai, pesisir, mangrove, padang lamun, terumbu karang, dan laut sebagai satu sistem ekologis yang saling terhubung,” ucapnya.

Kerusakan pada salah satu komponen akan memengaruhi keseluruhan sistem. Hutan menjaga siklus air dan iklim, sungai membawa nutrien ke wilayah pesisir, mangrove melindungi pantai dan menyimpan karbon, sementara terumbu karang menopang produktivitas perikanan dan ketahanan masyarakat pesisir.

Karena itu, menjaga Papua tidak cukup hanya dengan melindungi hutannya. Yang harus dijaga adalah keseluruhan bentang alam dan bentang lautnya.

Dalam kerangka tersebut, peran Papua menjadi semakin kuat ketika dilihat dalam konteks Raja Ampat.

Jika Papua adalah benteng iklim dunia di daratan, maka Raja Ampat adalah salah satu benteng terpenting di wilayah laut.

“Raja Ampat berada di jantung Segitiga Karang (Coral Triangle), pusat keanekaragaman hayati laut terbesar di dunia. Kawasan ini memiliki kekayaan terumbu karang, mangrove, padang lamun, dan perairan yang menjadi rumah bagi ribuan spesies laut,” katanya.

Ekosistem mangrove dan padang lamun Raja Ampat menyimpan cadangan karbon biru (blue carbon) yang sangat besar, melindungi pesisir dari dampak cuaca ekstrem, menjaga produktivitas perikanan, dan memperkuat ketahanan masyarakat terhadap perubahan iklim.

Dengan demikian, Papua dan Raja Ampat membentuk satu kesatuan bentang alam dan bentang laut yang menyediakan jasa iklim global sekaligus menopang salah satu pusat keanekaragaman hayati terpenting di bumi.

“Di dalam sistem tersebut, masyarakat adat memegang peranan yang sangat penting,” ujarnya.

Selama ratusan bahkan ribuan tahun, masyarakat adat Papua telah mengembangkan sistem pengelolaan sumber daya yang menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.

Berbagai praktik pengelolaan tradisional, termasuk pengaturan wilayah adat dan sasi laut di Raja Ampat, menunjukkan bahwa masyarakat adat bukanlah objek konservasi, melainkan pengelola utama ekosistem.

Karena itu, masyarakat adat harus dipandang sebagai penyedia jasa iklim global.

“Mereka menjaga hutan dan laut yang manfaatnya dinikmati oleh seluruh dunia. Pengakuan hak masyarakat adat, penguatan kelembagaan adat, dan pembagian manfaat yang adil bukan hanya persoalan keadilan sosial, tetapi merupakan bagian penting dari strategi global dalam menghadapi krisis iklim,” tuturnya.

Gelombang panas yang telah menewaskan lebih dari 1.300 orang di Eropa menjadi pengingat bahwa ketika sistem iklim terganggu, tidak ada negara yang benar-benar aman dari dampaknya.

Sebaliknya, ketika hutan Papua dan laut Raja Ampat tetap terjaga, manfaatnya dirasakan oleh seluruh umat manusia.

Karena itu, menjaga Papua dan Raja Ampat bukan hanya kepentingan lokal atau nasional, melainkan investasi global bagi masa depan bumi.

“Dan menjaga Papua pada akhirnya berarti memperkuat hak, peran, dan kepemimpinan masyarakat adat sebagai penjaga salah satu benteng terakhir iklim dan keanekaragaman hayati dunia,” pungkasnya.

(RED)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *