Dari Arfai hingga Kebar: Kisah Permenas Ferry Awom dan Johanes Jambuani .

( Redaksi Kamundanfm.com )

Di antara deretan nama yang mewarnai sejarah panjang Papua pasca-peralihan kekuasaan dari Belanda kepada Indonesia, dua sosok terus muncul dalam berbagai catatan, cerita lisan, dan diskusi sejarah: Permenas Ferry Awom dan Johanes Kaprimi Jambuani.

Bagi sebagian orang Papua, keduanya dikenang sebagai tokoh generasi pertama perlawanan politik Papua. Sementara dalam perspektif negara Indonesia, mereka tercatat sebagai pemimpin gerakan separatis bersenjata yang menentang pemerintahan Republik Indonesia. Terlepas dari perbedaan pandangan tersebut, satu hal sulit dibantah: nama Ferry Awom dan Johanes Jambuani memiliki pengaruh besar dalam membentuk sejarah awal Organisasi Papua Merdeka (OPM) di wilayah Kepala Burung Papua.

Awal Mula: Dari Seragam Negara ke Hutan Gerilya

Permenas Ferry Awom bukanlah orang biasa. Sebelum dikenal sebagai pemimpin gerilya, ia merupakan anggota Papua Vrijwilligers Korps (PVK), satuan militer bentukan Belanda yang dibentuk menjelang berakhirnya kekuasaan kolonial di Papua. Pendidikan militer yang diterimanya membuat Awom memiliki kemampuan kepemimpinan dan strategi lapangan yang menonjol dibanding banyak tokoh Papua pada zamannya.

Di sisi lain, Johanes Kaprimi Jambuani memiliki latar belakang berbeda. Lahir di Watabua, Kebar, pada 6 Juli 1938, ia pernah bertugas sebagai inspektur polisi pada masa administrasi Belanda. Rekan-rekannya mengenal Jambuani sebagai sosok disiplin, cerdas, dan memiliki kemampuan menembak yang sangat baik. Kemampuan itulah yang kemudian membuat namanya dikenal luas di wilayah Manokwari, Kebar, hingga Sorong.

Keduanya berasal dari institusi keamanan yang berbeda, namun pada pertengahan 1960-an mereka bertemu dalam satu tujuan politik yang sama. Saat Papua memasuki masa transisi dan integrasi ke Indonesia, sebagian elite Papua merasa aspirasi politik mereka tidak terakomodasi. Dari situ lahirlah kelompok-kelompok perlawanan yang kemudian berkembang menjadi OPM.

Juli 1965: Ketika Senjata Mulai Berbicara

Juli 1965 menjadi titik balik yang mengubah sejarah Papua Barat.

Menurut berbagai catatan sejarah Papua, Johanes Jambuani memimpin serangan terhadap pos militer di Kebar pada 26 Juli 1965. Serangan itu disebut sebagai salah satu aksi bersenjata pertama yang menandai fase baru perlawanan terhadap pemerintah Indonesia. Dalam berbagai cerita masyarakat Kebar, Jambuani dikenal sebagai penembak jitu yang memimpin pasukan dari daerah pegunungan menuju pusat pemerintahan setempat.

Dua hari kemudian, pada 28 Juli 1965, kelompok yang dipimpin Permenas Ferry Awom menyerang markas militer di Arfai, Manokwari. Peristiwa ini kemudian menjadi salah satu episode paling terkenal dalam sejarah awal OPM. Nama Ferry Awom mendadak menjadi target utama operasi keamanan Indonesia di Papua Barat.

Sejak saat itu, kawasan Manokwari, Pegunungan Arfak, Kebar, hingga sebagian Sorong berubah menjadi arena operasi militer dan gerilya yang berlangsung selama bertahun-tahun.

“Perang Jambuani-Awom”

Di kalangan masyarakat Arfak dan Kebar, periode 1965–1971 sering dikenang melalui cerita lisan sebagai masa “Perang Jambuani-Awom”. Dalam sejumlah kisah rakyat, kedua tokoh ini digambarkan sebagai komandan lapangan yang memiliki jaringan luas dan mengenal medan hutan Papua secara mendalam.

Johanes Jambuani dikenal dengan nama gerilya “Bitia”. Nama itu digunakan untuk menghindari pengejaran aparat keamanan. Dalam bahasa lokal Mpur, nama tersebut dihubungkan dengan karakter batu yang keras dan kuat. Ia menjadi simbol perlawanan masyarakat Kebar selama bertahun-tahun.

Sementara Ferry Awom tampil sebagai figur sentral yang mempersatukan sejumlah kelompok gerilya di wilayah Kepala Burung. Dalam berbagai sumber sejarah konflik Papua, ia sering disebut sebagai salah satu komandan utama gerakan bersenjata pada periode tersebut.

 

Tahun-Tahun di Hutan

Setelah serangan-serangan awal tersebut, operasi militer besar-besaran dilakukan oleh pemerintah Indonesia. Pasukan keamanan bergerak ke wilayah pegunungan dan pedalaman untuk mengejar kelompok gerilya.

Ferry Awom dan pengikutnya bertahan selama beberapa tahun di hutan-hutan Papua Barat. Medan yang berat membuat operasi penangkapan berlangsung lama. Menurut catatan sejarah operasi militer Indonesia, kelompok Ferry Awom baru berhasil dilumpuhkan melalui kombinasi pendekatan keamanan dan negosiasi.

Pada November 1970, Ferry Awom akhirnya menyerahkan diri bersama ratusan pengikutnya di Borasi, Manokwari. Penyerahan diri tersebut dianggap sebagai salah satu keberhasilan terbesar pemerintah Indonesia dalam meredam pemberontakan bersenjata di Papua pada masa itu.

Namun kisah Johanes Jambuani tidak berhenti di sana.

Dari Gerilyawan Menjadi Pengungsi Politik

Setelah menyerah pada awal 1970-an, Jambuani sempat mengikuti pelatihan militer dan kembali masuk lingkungan militer Indonesia. Namun perjalanan hidupnya kembali berubah.

Pada tahun 1984, ia terlibat dalam kelompok politik Papua yang kemudian menyebabkan dirinya mengungsi ke Papua Nugini sebagai pencari suaka politik. Selama sekitar 17 tahun, Jambuani hidup di kamp pengungsian sebelum akhirnya kembali ke Papua melalui program repatriasi yang difasilitasi badan pengungsi PBB pada era Presiden Abdurrahman Wahid.

Kembalinya Jambuani ke tanah kelahirannya menandai perubahan penting dalam hidupnya. Jika pada masa muda ia dikenal melalui perjuangan bersenjata, pada masa tua ia lebih sering berbicara mengenai dialog dan penyelesaian damai konflik Papua. Ia bahkan beberapa kali mengikuti forum masyarakat adat internasional di luar negeri.

Kehidupan Pribadi yang Tertutup

Berbeda dengan sepak terjang politik dan militernya, kehidupan pribadi kedua tokoh ini relatif sedikit terdokumentasi.

Ferry Awom dikenal sebagai sosok yang sangat menjaga privasi keluarga. Informasi mengenai istri, anak, maupun kehidupan sehari-harinya hampir tidak ditemukan dalam dokumen publik. Sebagian besar catatan sejarah hanya menyoroti perannya sebagai komandan gerilya.

Jambuani sedikit lebih terbuka. Masyarakat Kebar mengenalnya sebagai tokoh adat dan figur yang dihormati pada masa tuanya. Meskipun demikian, informasi detail mengenai keluarganya juga tidak banyak dipublikasikan.

Akhir Sebuah Generasi

Johanes Kaprimi Jambuani meninggal dunia pada 30 Agustus 2022 di Kebar, Papua Barat, pada usia 86 tahun. Kepergiannya menandai berakhirnya salah satu saksi hidup generasi awal konflik Papua sejak dekade 1960-an.

Sementara itu, jejak Permenas Ferry Awom tetap hidup dalam berbagai catatan sejarah konflik Papua. Hingga kini namanya masih menjadi bagian dari diskusi mengenai akar persoalan Papua dan dinamika politik yang berkembang sejak masa integrasi.

Lebih dari setengah abad setelah peristiwa Arfai dan Kebar, nama Ferry Awom dan Johanes Jambuani tetap menjadi simbol sebuah era. Sebuah masa ketika perubahan politik besar melahirkan pilihan-pilihan sulit, memecah pandangan, dan meninggalkan warisan sejarah yang hingga kini masih diperdebatkan oleh berbagai generasi di Tanah Papua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *